Logika merupakan ilmu berbicara benar. Lalu apa itu berpikir?? Apa itu ilmu?? Dan apa itu benar??
Berpikir, Ilmu, Dan Benar
Semua manusia, ketika dilahirkan di dunia ini dari perut-perut ibu mereka adalah dalam keadaan tidak mengerti apa-apa, dan mereka dibekali pendengaran, penglihatan, serta hati nurani agar mereka bersyukur (Q.S. Al-Nahl :78). Di ayat yang lain, Allah menyebutkan bahwa manusia adalah sangat dhalim dan bodoh (Q.S. Al-Ahzab : 72). Di dalam Al-Qur'an, Allah menyebutkan ada delapan belas ayat yang menerangkan bahwa orang-orang yang mau memanfaatkan akalnya, mereka pasti dapat mengetahui kekuasaan Allah. Di antaranya tersebut dalam Surat Ali Imran ayat 190 -191 yang artinya : "Sesungguhnya dalam menciptakan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (Q.S. Ali Imran : 190-191)".
Untuk memperoleh ilmu yang benar, berikut ini akan kami uraikan langkah-langkahnya, yaitu :
1. Berpikir (ratiocinium, reasoning = al- istidlal)
Berpikir adalah berbicara dengan diri sendiri di dalam batin (Poespoprodjo,1999 : 49), atau aktivitas manusia berpikir adalah membanding, menganalisis serta menghubungkan proposisi yang satu dengan lainnya (Mundiri,1994:7). Dapat dirumuskan bahwa berpikir adalah proses kerja otak dalam menghadapi masalah untuk mendapatkan ilmu yang benar.
Bila orang berbicara dengan memakai kata-kata, maka orang berpikir dengan menggunakan 'konsep' atau pengertian-pengertian. Konsep itu berada di dalam akal pikiran dan tidak perlu diucapkan dengan lisan atau tertulis, meskipun hal itu dapat membantu untuk merumuskan jalan pikiran dengan lebih jelas dan teliti. Apabila apa yang ada di dalam pikirkan itu hendak diberitahukan kepada orang lain, maka isi pikiran itu harus dinyatakan, dilahirkan dalam ungkapkan. Untuk menyatakan isi pikirasn itu, diperlukan suatu alat komunikasi, yaitu dengan 'bahasa'. 'Bahasa', baik lisan atau tertulis adalah alat untuk menyatakan isi pikiran. Jadi, antara pemikiran dan bahasa ada suatu hubungan timbal-balik. Berpikira dengan jelas dan tepat menuntut pemakaian kata-kata yang tepat; sebaliknya pemakaian kata-kata yang tepat sangat menolong untuk berpikir dengan lurus. Berpikir dengan lurus menuntut pemakaian kata-kata yang tepat.
Azas-Azas Berpikir.
Logika tradisional mengenal azas-azas pemikiran yang merupakan dasar kebenaran universal bagi semua pembuktian. Azas ini ada tiga dari Aristoteles dan ditambah satu dari Leionis sebagai berikut:
1) Azas Identitas (principium Identity = Qanun Dzatiyah)
Prinsip ini mengatakan bahwa sesuatu itu adalah dia sendiri bukan yang lain. Jadi kalau sesuatu konsep atau term digunakan di dalam suatu pemikiran haruslah sama artinya selama pembicaraan itu berlangsung, tetap mempunyai atribut-etribut yang telah ditentukan, tidak boleh dirobah-robah. Perobahan atribut pada term tertentu yang kita pakai itu akan mengakibatkan kekacauan dalam pemikiran, dan kesimpulan yang diambilpun akan salah. Misalnya saya mengatakan bahwa Ahmad adalah Ahmad bukan Muhammad.
2) Azas Kontradiktoris (principium contradictoris = qanun tanaqud)
Prinsip ini mengatakan bahwa pengingkaran sesuatu tidak mungkin sama dengan pengakuannya. Artinya menurut azas ini, tidak dapat disamakan antara sesuatu barang yang satu dengan yang barang yang menjadi lawannya; atau sesuatu tidak dapat positif dan negative pada waktu yang bersamaan. Misalnya saya mengatakan bahwa meja itu panjang dan tidak panjang. Jadi tidak mungkin dua kenyataan kontradiktoris bersama-sama secara simultan.
3) Azas penolakan kemungkinan ketiga (principium exclusitertii = qanun imtina')
Prinsip ini mengatakan bahwa antara pengakuan dan pengingkaran, kebenarannya terletak pada salah satunya. Pengakuan dan pengingkaran merupakan pertentangan mutlak, karena itu di samping tidak mungkin benar keduanya juga tidak mungkin salah keduanya. Jadi suatu proposisi selalu dalam keadaan benar atau salah. Misalnya Ali setengah lulus dalam ujian. Ini tidak mungkin terjadi, karena yang ada adalah Ali lulus dalam ujian atau Ali tidak lulus dalam ujian. Atau contoh lain Zaid tidak mati dan tidak hidup.
4) azas cukup alasan ( Principium Rationis Sufficientis)
Menurut azas ini adanya sesua tu itu pastilah mempunyai alas an yang cukup, demikian juga jika ada perobahan pada keadaan sesuatu. Dengan kata lain bahwa di alam ini tak mungkin ada yang terjadi dengan tiba-tiba tanpa alas an yang cukup (A.Chairil Basori, 1979: 5)
2. Pengertian Ilmu
Menurut Ahmad Damanhuri, 'al-ilmu ma'rifatul-ma'lumi' artinya ilmu adalah (tindakan manusia) mengenal sesuatu yang maklum (Ahmad Damanhuri, tt :5). Atau ilmu ialah "idrak al-majhul 'ala jihat al yaqin au al-dhanni idrakan yuthabiqu al-waqi' au yukhalifuhu " arinya hasil aktivitas akal pikiran manusia menangkap sesuatu yang majhul atas dasar keyakinan atau perkiraan, dengan hasil tangkapan yang sesuai dengan kenyataan atau mengingkari kenyataan) ( Muhammad Nur Ibraimi, tt: 7). Misalnya saudara melihat bayang-bayang dari arah kejauhan, dan saudara tangkap bahwa sesuatu itu adalah manusia dan saudara yakin itu. Dan kenyataannya sesuatu tersebut adalah memang manusia, maka hasil itulah yang dinamakan tangkapan yang yakin serta sesuai dengan kenyataan; Dan apabila saudara perkirakan bahwa sesuatu itu adalah manusia, dan kenyataannya adalah manusia, maka hasil itu namanya tangkapan yang berupa perkiraan yang sesuai dengan kenyataan. Sebaliknya bila sesuatu yang diyakini atau diperkirakan tersebut sebagai manusia, melainkan kenyataannya adalah bukan manusia, tetapi sebuah pohon, maka hasilnya itu disebut sebagai tangkpan yang yakin atau perkiraan yang salah. Misalnya umat manusia meyakini bahwa bumi adalah datar bukan bulat, maka itu adalah ilmu yakin yang tidak sesuai dengan kenyataan ( Muhammad Nur Ibrahimi, tt: 7).
a. Pembagian Ilmu
Keberadaan ilmu itu ada dua macam, yaitu ilmu kadim dan ilmu hadis. Ilmu kadim ialah ilmu yang dimiliki oleh Allah swt., sedangkan ilmu hadis adalah ilmu yang dimiliki oleh makhluk (Bisri Mustofa, 1381:8). Adapun ilmu Allah itu satu, tidak dapat dibagi-bagi, sementara ilmu makhluk dapat dibagi-bagi ( Ahmad al-Damanhuri,tt : 3).
b. Tingkatan Ilmu
Dilihat dari segi kemampuan akal manusia untuk menangkap (meng-idrak ) sesuatu, tingkatan ilmu itu ada dua macam, yakni:
(1) Menangkap akan arti 'mufrad' ("satu" hal) disebut "tashawwur" (gambaran), dan
(2) Menangkap akan 'nisbah' (satuan, rangkaian satuan) disebut "tashdiq" (membenarkan). Misalnya seseorang berkata "pisang", pikiran kita pasti dapat menggambarkan /membayangkan arti dari kata pisang itu. Dapat menggambarkan/membayangkan yang demikian itu namanya "tashawwur". Oleh karena itu, ketika ada orang berkata : Gunung Merapi itu lunak seperti ager-ager/roti, maka pikiran kita pasti menolak, tidak dapat menerima, malahan pikiran kita akan menyangkal : Tidak bisa jadi, Gunung Merapi tidaklah lunak, tetapi keras seperti Gunung-Gunung yang lain. Pembuahan pikiran yang mengatakan 'Gunung Merapi itu keras sebagaimana Gunung-Gunung yang lain', itu yang disebut "Tashdiq" (membenarkan) (Cholil Bisri Mustofa, 1987 : 9).
Selanjutnya, ilmu tashawwur itu ada dua, yaitu ada yang bersifat ‘badihi’ (dapat ditangkap dengan mudah) tidak memerlukan berpikir panjang seperti tashawwur tentang perasaan lapar, haus, dingin, panas, dan lain-lain; dan ada yang bersifat ‘nadhari’ (memerlukan berpikir) misalnya tashawwur tentang hakikat listrik, hakikat jiwa, dan lain-lain. Begitu pula, ilmu tashdiq juga ada dua, yakni ada yang bersifat badihi (dapat ditangkap dengan mudah) tidak memerlukan berpikir panjang seperti tashdiq tentang sesuatu itu tidak mungkin bertempat dalam dua tempat pada waktu yang sama, atau seperti angka satu itu setengah dari angka dua; dan juga ada ilmu tashdiq yang bersifat nadhari (memerlukan berpikir) seperti tashdiq tentang sesungguhnya alam adalah baru, dan lain-lain (Muhammad Nur Ibarahimi, tt, hlm. 8).
c. Ilmu Dan Pengetahuan
Dalam bahasa Indonesia, kata "ilmu" sejajar artinya dengan kata "science" (Inggris) dan dibedakan penggunaannya dengan kata "pengetahuan" atau "knowledge" (Inggris). Pengetahuan atau "knowledge" yaitu hasil dari aktivitas mengetahui atau tersingkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa hingga tidak ada keraguan terhadapnya ( Al-Ghazali: tt, hlm.7-12). Maka dalam hal ini, keyakinan (ketidakraguan) menjadi syarat mutlak bagi jiwa untuk disebut sebagai "mengetahui". Misalnya saya mengetahui bahwa angka dua itu nilainya lebih besar daripada angka satu. Sehingga apabila ada orang lain mengatakan sebaliknya, maka saya tolak pernyataannya itu. Jadi dasar yang dipegangi dalam pengetahuan adalah a priori (bersumber dari akal pikiran).
Sedangkan ilmu atau "science" artinya juga memang mengetahui sesuatu, tetapi tidak sekedar mengetahui, melainkan dapat menunjukkan sebab-akibat terjadinya sesuatu tersebut. Misalnya saya mengetahui bahwa pelampung itu selalu terapung di atas air, karena BJ (berat jenis ) pelampung itu lebih kecil daripada berat jenis air. Ini namanya saya mempunyai ilmu tentang pelampung. Jadi "pengalaman" empiris (dapat diindera) atau a posteriori menjadi syarat mutlak dalam sebuah ilmu (Mundiri, 1996: 5).
d. Bahasan Petunjuk (Fi Mabahis al-Dalalah)
Menurut Muhammad Nur Ibrahimi, petunjuk atau ‘al-dalalah’ ialah faham sesuatu dari sesuatu . Sesuatu yang pertama disebut yang ditunjukkan atau al-madlul’ dan yang keduda disebut petunjuk atau al-daal(Muhammad Nur Ibrahimi, tt). Menurut Ahmad Damanhuri, ada dua macam petunjuk (dalalah) yang dapat dipergunakan manusia untuk memperoleh ilmu, yaitu pertama melalui petunjuk yang bersuara (lafdhiyah), dan kedua melalui petunjuk yang tidak bersuara (ghairu lafdhiyah). Dan dari masing-masing petunjuk itu ada yang bersifat naluri (thabi'iyah), rasional ('aqliyah), dan buatan ( wad'iyah), maka semuanya menjadi enam petunjuk (Ahmad Damanhuri,tt : 6).
1) Petunjuk Bersuara ( Dalalah Lafdhiyah)
a. Petunjuk bersuara yang bersifat watak manusia seperti suara rintihan (misalnya aduh-aduh) sebagai petunjuk kesakitan.
b. Petunjuk bersuara yang bersifat rasional seperti ada suara halo-halo di balik dinding sebagai petunjuk pasti ada orang yang berkata halo-halo di sana.
c. Petunjuk bersuara yang bersifat buatan seperti ada suara bedhuk dung-dung (dibuat) sebagai petunjuk panggilan hadir di masjid, misalnya untuk shalat; atau petunjuk yang dibuat istilah oleh ahli bahasa contoh kata "manusia" sebagai petunjuk binatang yang berpikir.
2) Petunjuk Tak Bersuara (Dalalah Ghairu Lafdhiyah)
a. Petunjuk tak bersuara yang bersifat watak manusia seperti wajah merah sebagai petunjuk sedang marah, atau wajah pucat sebagai petunjuk sedang takut.
b. Petunjuk tak bersuara yang bersifat rasional seperti adanya alam sebegai petunjuk adanya Sang Pencipta yaitu Allah , dan seperti ada asap sebagai petunjuk ada api.
c. Petunjuk tak bersuara yang bersifat buatan seperti menganggukkan kepala sebagai petunjuk isyarah mau atau ya, atau menggelengkan kepala sebagai petunjuk tidak mau .
Selanjutnya, perlu diketahui bahwa petunjuk yang dimaksud dalam ilmu mantiq (logika) adalah petunjuk yang bersifat bersuara buatan (Dalalah lafdhiyah Wad'iyyah). Petunjuk ini dibagi lagi menjadi tiga macam, yaitu Dalalah Muthabaqah, Dalalah Tadhammuniyah, dan Dalalah Iltizamiyah.
a) Petunjuk Makna Penuh (Dalalah Muthabaqah), ialah petunjuk bersuara yang artinya sesuai dengan makna sempurna dan hakiki, misalnya ucapan "manusia" (adalah kumpulan dari 'binatang yang berpikir'). Atau contoh lain, kata "rumah" sebagai petunjuk atas sekumpulan tiang-tiang, dinding-dinding, atap-atap yang melingkupinya. Dinamakan sebagai Dalalah Muthabaqah, karena kesesuaian pemahaman dengan pembuatan kata tersebut menurut arti bahasa secara sempurna.
b) Petunjuk Sebagian (Dalalah Tadlammuniyah), artinya menyebutkan sesuatu, tetapi yang dimaksudkan hanya sebagian saja, misalnya kata "manusia" yang dimaksud adalah binatang (saja), atau berpikir (saja) sebagai kumpulan dari 'binatang yang berpikir'. Atau contoh lain, kata "rumah" dari kalimat 'Ahmad mengecat rumah', sebagai petunjuk atas dinding-dindingnya saja. Dinamaknnya Dalalah Tadlammuniyah, karena menyebutkan kata utuh (rumah), tetapi yang dimaksudkan hanya bagian dari keseluruhan, yaitu hanya dinding-dindingnya saja.
c) Petunjuk Kelaziman (Dalalah Iltizamiyah), artinya sesuatu di luar dari arti yang dikandung dalam sebuah kata, tetapi merupakan kelaziman ada baginya, misalnya kata "manusia" sebagai petunjuk 'dapat menerima ilmu dan kemampuan menulis'. Atau contoh lain, kata 'pandai' dari kalimat 'Ahmad adalah orang pandai' Dinamakannnya, Iltizamiyah, karena pemahaman kata tersebut (pandai) yang dimasksudkan adalah orang yang 'mempunyai ilmu' tidak terdapat dalam makna, melainkan sebagai kelazimannya (Ahmad Damanhuri, tt: 6-7; Lihat Muhammad Nur Ibrahimi, tt : 9-10).
3. Benar (True = al-Shidq)
Istilah 'benar' pada dasarnya adalah persesuaian antara pikiran dengan kenyataan (Randall & Buchler, 1964, hlm. 133). Misalnya pernyataan 'semua mangga adalah buah'. Pernyataan tersebut dianggap benar, karena bila dicek di lapangan, memang segala macam mangga di dunia ini adalah buah. Ada bermacam-macam kriteria kebenaran antara lain :
Kebenaran konsistensi dan koherensi yaitu suatu pernyataan dianggap benar bila konsisten (berlaku tetap) dan koheren (runtut) dan tidak ada pertentangan di dalamnya.
Misalnya :
Semua makhluk hidup pasti akan mati
Semua mahasiswa adalah makhluk hidup
Jadi semua mahasiswa pasti akan mati.
Kebenaran korespondensi (berhubungan) artinya suatu pernyataan dianggap benar bila sesuai dengan fakta di lapangan. Misalnya pernyataan : Jakarta adalah ibu Kota Negara RI.
Kebenaran fragmatis (berguna) yakni suatu pernyataan dianggap benar bila bermanfaat bagi masyarakat. Misalnya pernyataan : Bodrex adalah obat penyakit batuk, atau stimulus itu dapat memberi semangat belajar.
Kebenaran Religious (keagamaan) yakni suatu pernyataan dianggap benar bila sesuai dengan keyakinan yang dipeluknya. Maka kebenaran ini bersifat subyektif. Misalnya pernyataan Nabi Muhammad saw., adalah Rasul Allah swt. Pernyataan itu diyakini benar menurut umat Islam (Yuyun S.Suriasumantri, 1996:55).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar