Minggu, 29 Maret 2020

Logika merupakan ilmu berbicara benar. Lalu apa itu berpikir?? Apa itu ilmu?? Dan apa itu benar??

Logika merupakan ilmu berbicara benar. Lalu apa itu berpikir?? Apa itu ilmu?? Dan apa itu benar??

Berpikir,  Ilmu, Dan Benar
Semua manusia, ketika dilahirkan di dunia ini dari perut-perut ibu mereka adalah dalam keadaan tidak mengerti apa-apa, dan mereka dibekali pendengaran, penglihatan, serta hati nurani agar mereka bersyukur (Q.S. Al-Nahl :78). Di ayat yang lain, Allah menyebutkan bahwa manusia adalah sangat dhalim dan bodoh (Q.S. Al-Ahzab : 72).  Di dalam Al-Qur'an, Allah menyebutkan ada delapan belas ayat yang menerangkan bahwa orang-orang yang mau memanfaatkan akalnya, mereka pasti dapat mengetahui kekuasaan Allah. Di antaranya tersebut dalam Surat Ali Imran ayat 190 -191 yang artinya : "Sesungguhnya  dalam  menciptakan langit dan bumi, dan silih  bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang  yang  mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah  Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (Q.S. Ali Imran : 190-191)".
Untuk memperoleh ilmu yang benar, berikut ini akan kami uraikan langkah-langkahnya, yaitu :

1. Berpikir (ratiocinium, reasoning = al- istidlal)
 Berpikir  adalah berbicara dengan diri sendiri di dalam batin (Poespoprodjo,1999 : 49), atau aktivitas manusia berpikir adalah membanding, menganalisis serta menghubungkan  proposisi yang satu dengan  lainnya (Mundiri,1994:7). Dapat dirumuskan  bahwa berpikir adalah proses kerja otak dalam menghadapi masalah untuk mendapatkan ilmu yang  benar.
 Bila orang  berbicara dengan memakai kata-kata, maka  orang  berpikir  dengan menggunakan 'konsep' atau  pengertian-pengertian.  Konsep itu berada di dalam akal pikiran dan tidak perlu  diucapkan dengan lisan atau tertulis, meskipun hal itu  dapat membantu untuk  merumuskan jalan pikiran dengan  lebih jelas dan teliti. Apabila  apa yang ada di dalam pikirkan itu  hendak   diberitahukan  kepada orang lain, maka  isi pikiran  itu harus dinyatakan, dilahirkan dalam ungkapkan. Untuk menyatakan  isi pikirasn  itu, diperlukan suatu alat komunikasi, yaitu  dengan 'bahasa'. 'Bahasa', baik lisan atau  tertulis adalah  alat  untuk  menyatakan isi pikiran. Jadi, antara pemikiran dan bahasa  ada suatu  hubungan  timbal-balik. Berpikira dengan  jelas dan tepat  menuntut pemakaian kata-kata yang  tepat; sebaliknya  pemakaian  kata-kata yang  tepat  sangat  menolong untuk berpikir dengan lurus. Berpikir  dengan lurus menuntut pemakaian  kata-kata  yang tepat.

Azas-Azas Berpikir.
Logika tradisional mengenal azas-azas pemikiran  yang merupakan dasar kebenaran universal bagi semua pembuktian. Azas ini ada tiga dari Aristoteles dan ditambah satu dari Leionis sebagai berikut:
1) Azas Identitas (principium Identity = Qanun Dzatiyah) 
     Prinsip ini mengatakan bahwa sesuatu itu adalah  dia sendiri bukan yang lain. Jadi kalau sesuatu konsep atau term digunakan di dalam suatu pemikiran haruslah sama artinya selama pembicaraan itu berlangsung, tetap mempunyai atribut-etribut yang telah ditentukan, tidak boleh dirobah-robah. Perobahan atribut pada term tertentu yang kita pakai itu akan mengakibatkan kekacauan dalam pemikiran, dan kesimpulan yang diambilpun akan salah. Misalnya saya mengatakan  bahwa Ahmad adalah Ahmad bukan Muhammad.
2)  Azas Kontradiktoris (principium contradictoris = qanun tanaqud)
     Prinsip ini mengatakan  bahwa pengingkaran  sesuatu  tidak   mungkin sama dengan  pengakuannya. Artinya menurut azas ini, tidak dapat disamakan antara sesuatu barang yang satu dengan yang barang yang menjadi lawannya; atau sesuatu tidak dapat positif dan negative pada waktu yang bersamaan. Misalnya saya mengatakan bahwa meja itu panjang dan tidak panjang. Jadi tidak mungkin  dua kenyataan kontradiktoris bersama-sama  secara simultan.
3) Azas penolakan kemungkinan ketiga (principium exclusitertii = qanun imtina')
      Prinsip ini mengatakan bahwa  antara pengakuan  dan pengingkaran, kebenarannya terletak  pada salah satunya. Pengakuan dan pengingkaran  merupakan  pertentangan  mutlak, karena itu  di samping  tidak mungkin  benar keduanya juga tidak mungkin  salah keduanya. Jadi suatu proposisi selalu dalam keadaan  benar atau salah. Misalnya Ali  setengah lulus dalam ujian. Ini tidak mungkin terjadi, karena yang ada adalah Ali lulus dalam ujian atau Ali tidak lulus dalam ujian. Atau contoh lain   Zaid tidak mati dan tidak hidup. 
4) azas cukup alasan ( Principium Rationis Sufficientis)
     Menurut azas ini adanya sesua tu itu pastilah mempunyai alas an yang cukup, demikian juga jika ada perobahan pada keadaan sesuatu. Dengan kata lain bahwa di  alam ini tak mungkin ada yang terjadi dengan tiba-tiba tanpa alas an yang cukup (A.Chairil Basori, 1979: 5) 

2. Pengertian Ilmu
Menurut Ahmad Damanhuri, 'al-ilmu ma'rifatul-ma'lumi' artinya ilmu adalah (tindakan manusia) mengenal sesuatu yang maklum (Ahmad Damanhuri, tt :5). Atau ilmu ialah "idrak al-majhul 'ala jihat al yaqin au al-dhanni idrakan yuthabiqu al-waqi' au yukhalifuhu " arinya hasil aktivitas akal pikiran manusia menangkap sesuatu yang majhul atas dasar keyakinan atau perkiraan, dengan hasil tangkapan yang sesuai dengan kenyataan atau  mengingkari kenyataan) ( Muhammad Nur Ibraimi, tt: 7). Misalnya  saudara melihat bayang-bayang dari arah kejauhan, dan saudara  tangkap bahwa sesuatu itu adalah  manusia dan saudara  yakin itu. Dan kenyataannya  sesuatu tersebut adalah memang manusia, maka hasil itulah yang dinamakan  tangkapan yang yakin  serta sesuai dengan kenyataan; Dan apabila saudara perkirakan bahwa sesuatu itu adalah manusia, dan kenyataannya adalah manusia, maka hasil itu namanya tangkapan yang  berupa perkiraan yang sesuai dengan kenyataan. Sebaliknya  bila  sesuatu yang diyakini atau diperkirakan tersebut  sebagai manusia,  melainkan  kenyataannya   adalah  bukan manusia, tetapi   sebuah pohon, maka hasilnya itu  disebut  sebagai tangkpan  yang yakin  atau perkiraan yang salah. Misalnya  umat manusia meyakini bahwa  bumi adalah datar bukan bulat, maka  itu adalah ilmu  yakin yang tidak sesuai dengan kenyataan ( Muhammad Nur Ibrahimi, tt: 7).  

a. Pembagian Ilmu 
Keberadaan ilmu itu ada dua macam, yaitu ilmu kadim dan ilmu hadis. Ilmu kadim  ialah ilmu yang dimiliki  oleh Allah swt., sedangkan ilmu hadis adalah ilmu yang dimiliki  oleh makhluk (Bisri Mustofa, 1381:8). Adapun ilmu Allah itu satu, tidak dapat dibagi-bagi, sementara ilmu makhluk dapat dibagi-bagi ( Ahmad al-Damanhuri,tt : 3).
b. Tingkatan Ilmu
Dilihat dari segi kemampuan akal manusia untuk menangkap (meng-idrak ) sesuatu, tingkatan ilmu  itu ada dua macam, yakni:
(1) Menangkap akan  arti 'mufrad' ("satu" hal) disebut "tashawwur" (gambaran), dan
(2) Menangkap akan  'nisbah' (satuan, rangkaian satuan) disebut "tashdiq" (membenarkan). Misalnya  seseorang  berkata "pisang", pikiran kita  pasti dapat menggambarkan /membayangkan arti dari kata pisang itu. Dapat menggambarkan/membayangkan yang demikian  itu namanya "tashawwur". Oleh karena itu,  ketika ada orang  berkata : Gunung Merapi itu lunak seperti ager-ager/roti, maka pikiran kita pasti menolak, tidak dapat menerima, malahan pikiran kita akan menyangkal : Tidak  bisa  jadi, Gunung Merapi  tidaklah lunak, tetapi keras seperti Gunung-Gunung yang lain. Pembuahan  pikiran yang mengatakan 'Gunung Merapi  itu keras sebagaimana  Gunung-Gunung  yang lain', itu  yang disebut  "Tashdiq" (membenarkan) (Cholil Bisri Mustofa, 1987 : 9).
Selanjutnya, ilmu  tashawwur itu ada dua, yaitu ada yang bersifat ‘badihi’ (dapat ditangkap dengan mudah) tidak memerlukan berpikir panjang seperti  tashawwur tentang perasaan lapar, haus, dingin, panas, dan lain-lain; dan ada yang bersifat ‘nadhari’ (memerlukan berpikir) misalnya tashawwur tentang  hakikat listrik, hakikat jiwa, dan lain-lain. Begitu pula, ilmu tashdiq juga ada dua, yakni ada yang bersifat badihi (dapat ditangkap dengan mudah) tidak memerlukan berpikir panjang seperti tashdiq tentang sesuatu itu tidak mungkin bertempat  dalam dua tempat pada waktu yang sama, atau seperti angka satu itu setengah dari angka dua; dan juga ada  ilmu tashdiq yang bersifat nadhari (memerlukan berpikir) seperti tashdiq tentang  sesungguhnya alam  adalah baru, dan lain-lain (Muhammad Nur Ibarahimi, tt, hlm. 8).    

c. Ilmu Dan Pengetahuan
Dalam bahasa Indonesia, kata "ilmu" sejajar artinya dengan  kata "science" (Inggris) dan dibedakan penggunaannya dengan kata  "pengetahuan" atau "knowledge" (Inggris). Pengetahuan atau "knowledge" yaitu hasil dari aktivitas mengetahui  atau tersingkapnya  suatu kenyataan  ke dalam jiwa hingga  tidak ada keraguan  terhadapnya ( Al-Ghazali: tt, hlm.7-12). Maka dalam hal ini, keyakinan (ketidakraguan) menjadi syarat mutlak bagi jiwa untuk disebut sebagai "mengetahui". Misalnya  saya mengetahui bahwa angka dua itu nilainya lebih besar daripada angka satu. Sehingga apabila ada orang lain mengatakan sebaliknya, maka saya tolak pernyataannya itu. Jadi dasar yang dipegangi dalam pengetahuan adalah a priori (bersumber dari akal pikiran).
 Sedangkan ilmu atau "science" artinya  juga memang mengetahui sesuatu, tetapi tidak sekedar mengetahui, melainkan dapat menunjukkan sebab-akibat terjadinya sesuatu tersebut. Misalnya  saya mengetahui  bahwa pelampung itu selalu terapung di atas air, karena BJ (berat jenis ) pelampung itu lebih kecil daripada berat jenis air. Ini namanya saya mempunyai ilmu tentang pelampung. Jadi "pengalaman" empiris (dapat diindera) atau a posteriori menjadi syarat mutlak dalam  sebuah ilmu (Mundiri, 1996: 5). 

d. Bahasan Petunjuk (Fi Mabahis al-Dalalah)
Menurut Muhammad Nur Ibrahimi, petunjuk atau ‘al-dalalah’ ialah faham sesuatu dari sesuatu . Sesuatu yang pertama disebut yang ditunjukkan atau al-madlul’ dan yang keduda disebut petunjuk atau al-daal(Muhammad Nur Ibrahimi, tt). Menurut Ahmad Damanhuri, ada dua macam  petunjuk (dalalah) yang dapat dipergunakan manusia untuk memperoleh ilmu,  yaitu pertama melalui petunjuk yang bersuara (lafdhiyah), dan kedua melalui petunjuk  yang tidak bersuara (ghairu lafdhiyah). Dan dari masing-masing petunjuk itu ada  yang bersifat  naluri (thabi'iyah), rasional ('aqliyah), dan  buatan ( wad'iyah), maka  semuanya menjadi enam petunjuk (Ahmad Damanhuri,tt : 6).
1) Petunjuk  Bersuara ( Dalalah Lafdhiyah)
     a. Petunjuk bersuara yang bersifat watak manusia seperti suara rintihan (misalnya aduh-aduh) sebagai petunjuk kesakitan.
     b.  Petunjuk  bersuara yang bersifat rasional seperti  ada suara halo-halo di balik dinding  sebagai petunjuk pasti ada orang yang berkata halo-halo di sana.  
     c.  Petunjuk bersuara yang bersifat buatan seperti ada suara bedhuk dung-dung (dibuat) sebagai petunjuk  panggilan hadir di masjid, misalnya untuk shalat; atau petunjuk yang dibuat istilah  oleh ahli bahasa contoh kata "manusia" sebagai petunjuk binatang yang berpikir.
2) Petunjuk Tak Bersuara (Dalalah Ghairu Lafdhiyah)    
     a.  Petunjuk tak bersuara yang bersifat watak manusia seperti  wajah merah sebagai petunjuk sedang marah, atau wajah pucat sebagai petunjuk  sedang  takut.
     b.  Petunjuk  tak bersuara yang bersifat rasional seperti  adanya alam sebegai petunjuk adanya Sang Pencipta yaitu Allah , dan seperti ada asap sebagai  petunjuk ada api.
     c. Petunjuk tak bersuara yang bersifat  buatan seperti menganggukkan kepala sebagai petunjuk isyarah mau atau ya, atau menggelengkan kepala sebagai petunjuk tidak mau . 
Selanjutnya, perlu diketahui bahwa petunjuk  yang dimaksud dalam ilmu mantiq (logika) adalah  petunjuk yang bersifat bersuara buatan (Dalalah lafdhiyah Wad'iyyah). Petunjuk ini dibagi lagi menjadi tiga macam, yaitu Dalalah Muthabaqah, Dalalah Tadhammuniyah, dan Dalalah Iltizamiyah.
a) Petunjuk Makna Penuh (Dalalah Muthabaqah), ialah petunjuk  bersuara  yang artinya  sesuai dengan  makna sempurna dan hakiki, misalnya ucapan "manusia" (adalah kumpulan dari  'binatang  yang berpikir'). Atau contoh lain, kata "rumah" sebagai petunjuk atas sekumpulan tiang-tiang, dinding-dinding, atap-atap yang melingkupinya.  Dinamakan sebagai Dalalah Muthabaqah, karena kesesuaian pemahaman  dengan pembuatan  kata tersebut menurut  arti bahasa secara sempurna. 
b) Petunjuk Sebagian (Dalalah Tadlammuniyah), artinya menyebutkan sesuatu, tetapi yang dimaksudkan hanya sebagian saja, misalnya kata "manusia" yang dimaksud adalah binatang (saja), atau berpikir  (saja) sebagai kumpulan dari 'binatang yang berpikir'. Atau contoh lain, kata "rumah" dari kalimat 'Ahmad mengecat rumah', sebagai petunjuk atas dinding-dindingnya saja. Dinamaknnya Dalalah Tadlammuniyah, karena menyebutkan kata utuh (rumah), tetapi yang dimaksudkan hanya bagian  dari keseluruhan, yaitu hanya dinding-dindingnya saja.   
c) Petunjuk  Kelaziman (Dalalah Iltizamiyah), artinya sesuatu di luar dari arti yang dikandung dalam sebuah kata, tetapi merupakan  kelaziman ada baginya, misalnya kata "manusia" sebagai petunjuk  'dapat menerima  ilmu dan  kemampuan menulis'. Atau contoh lain, kata 'pandai' dari kalimat 'Ahmad adalah orang pandai' Dinamakannnya, Iltizamiyah, karena  pemahaman kata tersebut (pandai) yang dimasksudkan adalah orang yang 'mempunyai ilmu'  tidak  terdapat dalam makna, melainkan  sebagai kelazimannya (Ahmad Damanhuri, tt: 6-7; Lihat Muhammad Nur Ibrahimi, tt : 9-10).

3. Benar (True  = al-Shidq)
Istilah 'benar' pada dasarnya adalah  persesuaian antara pikiran dengan  kenyataan (Randall & Buchler, 1964, hlm. 133). Misalnya pernyataan 'semua mangga adalah  buah'. Pernyataan tersebut dianggap benar, karena bila dicek di lapangan, memang segala macam mangga di dunia ini adalah buah. Ada bermacam-macam kriteria kebenaran antara lain :
Kebenaran konsistensi dan koherensi yaitu suatu pernyataan dianggap benar bila konsisten (berlaku tetap) dan koheren (runtut) dan tidak ada pertentangan di dalamnya.
            Misalnya :
      Semua makhluk hidup pasti akan mati
      Semua mahasiswa adalah makhluk hidup
      Jadi semua mahasiswa pasti akan mati.
Kebenaran korespondensi (berhubungan) artinya suatu pernyataan  dianggap benar bila sesuai dengan fakta di lapangan. Misalnya pernyataan : Jakarta adalah ibu Kota Negara RI.
Kebenaran fragmatis (berguna) yakni suatu  pernyataan dianggap benar bila  bermanfaat  bagi masyarakat. Misalnya pernyataan : Bodrex adalah obat penyakit batuk, atau stimulus itu dapat memberi semangat belajar.
Kebenaran Religious (keagamaan) yakni suatu pernyataan dianggap benar bila sesuai dengan keyakinan yang dipeluknya. Maka kebenaran ini bersifat subyektif. Misalnya pernyataan Nabi Muhammad saw., adalah Rasul Allah swt. Pernyataan itu diyakini benar menurut umat Islam (Yuyun S.Suriasumantri, 1996:55).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KASUS KELIMA : ISTIHADHAH MUTAHAYIROH MUTLAQAH (Kajian Fiqih seri 55)

_#seri55_ *KASUS KELIMA : ISTIHADHAH MUTAHAYIROH MUTLAQAH* Kasus kelima ini adalah kasus pertama dari tiga jenis mutahayirah yang sudah dise...